Suara yang berbeda dari IBU

Lagi asik banget buat tema untuk tampilan chrome di PC kantor, searching  gambar gambar yang buat semangat kalo liatin PC pas ngerjain kerjaan kantor dengan di temani segelas Brown Coffee dan list MP3 yang terus berjalan sesuai aluanan lagu.

Liat liat gambar sun rise yang cantik cantik di beranda browser ku, mata tertuju kepada setiap gambar yang lebih menarik, dan aku putuskan mengambil salah satu gambar yang paling cantik menurutku.

Selang beberapa detik suara hape ku berbunyi “trululut trululut” kulihat ternyata ada nama adikku “Siti Rachayati” Calling, lantas aku mencabut kabel yang masih terpasang ke perangkat hape ku tersebut dan aku tekan tombil hijau yang berada di kiri di bawah kayar hape ku.

kupikir adikku yang menelpon tetapi suara yang berbeda yang aku dengar kali ini, suara yang begitu lembut dari biasanya aku dengar yang begitu perlahan tenang tapi menyiratkan begitu ke khawatiran di nada suara tersebut.

Ibu yang berbicara dengan ku lewat telepon tersebut. Aku terdiam sesaat mendengar suara yang begitu beda kudengar dari sebelumnya.

kata pertamanya yang iya sampaikan itu “Amah, nanti pulang jam berapa?” tanya Ibu
“Pulang jam 9an Ma, kenapa?” tanya ku

“Besok pagi – pagi ke Dokter ya, periksa kesana” suruhnya, tapi ini dengan nada yang begitu lembut begitu tenang membuat aku terdiam dan hanya menatap layar PC ku dengan kosong

“Iya Ma, aku mau kok periksa” sahutku lagi

“Nanti malam minum jamu dari Mamanya Ami baru sejam kemudian minum obat kamu yang semalem di beli, Mama cuma mau kamu sembuh karena Mama sayang kamu” mendengar kata-kata ini aku makin terdiam dan suaraku merendah dan semakin pelan menjawab perintah Ibu.

Aku tersontak kaget sore ini kata-kata terakhir Ibu ini sungguh membuatku tak tersadar meneteskan air mata yang terus mengalir tanpa henti ketika terbayang wajah ibu saat mengucapkan kata-katanya kepadaku.

Begitu Ibu menghawatirkan aku, melakukan semua yang iya bisa untuk ku. Anak sulungnya yang belum bisa membuatnya bangga dan bisa membuatnya tersenyum bahagia karena apa yang aku berikan selama ini, kesusahan yang aku berikan selalu merepotkannya. Rasanya malu sekali diri ini.

Ibu yang sudah capek menjaga dan menjadi sosok Ayah untuk kami anaknya, Ibu juga berperan menjadi “Malaikat Allah” yang dikirim untuk menjaga ketiga Putrinya ini, menjaga dengan sepenuh hati tanpa pernah merasa lelah dan capek, siang malam di harinya hanya untuk memberikan yang terbaik untukku dan kedua adikku.

Dan suara Ibu di sore ini menjadi Vitamin obat kuat yang paling mujarab yang bisa mengangkat semangat ku untuk mengejar semua impian ku. Dan Ibulah alasan terkuat ku untuk mewujudkan Impian ku yang akan ku persembahkan Untuknya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s