Jari Jemari Kaki Ibu

Terinspirasi saat aku melakukan hal yang sering kulakukan saat sedang rindu berbiacara dari hati ke hati bersama ibu. Inilah salah satu ritual rutin yang aku lakukan bersama ibu, menjadi salah satu cara untuk aku bisa berbicara dari bahasan ringan hingga sedikit berat. 

Bersamaan dengan terkikisnya kuku satu persatu mengalir juga cerita antara aku dan ibu, mulai dari kegiatan hari ini sampai flashback ke beberapa tahun terakhir yang sangat membekas dalam benak pikiran.

Potongan kuku pada kaki ibu melayangkan pikiranku terbang kebeberapa tahun yang lalu. Tahun dimana aku, ibu, dan adik bersama – sama mengumpulkan tenaga demi sebuah kehidupan.

Bahasan masalalu yang selalu menarik diperbincangkan oleh kami. Ketika membahas masalalu ibu yang awal hanya berbaring dikasur sergap menjadi duduk dan menunjukan keseriusan pada mimik wajah untuk berdiskusi dengan ku.

Ketika itu aku dan ibu kembali dimana aku dan ibu bisa bersama sama bekerja keras, berjuang untuk bertahan hidup. Ekonomi yang sangat mencekik leher ibu sampai sampai ibu sudah kehabisan cara untuk memutar otak untuk mencari nafkah keluarga kami.

Tiba pada saatnya aku juga harus bejuang membantu ibu. Berjualan kue itulah caraku untuk membantu ibu. Pada saat itu aku masuk sekolah siang hari jadi waktu pagi ku isi dengan membuat Risoles dan Roti Goreng Isi yang akhirnya menjadi primadona oleh guru – guru SMK ku dan juga teman – teman ku kala itu.

Sehari saja dalam waktu tiga puluh menit dagangan ku sudah ludes, habis di rampok oleh pelanggan setia yang selalu menyiapkan ruang kecil diperut agar terisi oleh Risoles dan Roti Goreng Isi buatan ku, dalam sehari aku bisa membawa uang pulang 80 sampai 100rb nominal yang cukup besar bagiku pada saat itu.

Walau tak banyak membantu tapi cukup bagi ibu memutar uang untuk modal dan kami untuk makan dan membantu keperluan sekolah pada saat itu.

Begitu membahagiakan disaat ibu sedang sangat tertekan, aku juga adikku melakukan hal yang sama dan bisa sedikit membantu beban ibu. Simpul senyum selalu datang ketika melihat para pelanggan puas dengan rasa yang kami buatkan untuk mereka, serta simpul senyum dari ibulah yang sangat utama.
Masa kala itu sungguh indah, walau kami kekurangan tapi ada hal yang membuat kami tak kurang. Kasih sayang antara anggota keluarga. Ya itulah poin pentingnya.

Tak terasa potongan terakhir jatuh pada potongan jari kelingking di kaki ibu yang tinggal sedikit lagi akan aku tumbangkan.

Mengenang kembali masa semua perjuangan ibu yang tiada tara dengan apapun. Ya ibu seorang pedagang kue. Yang semua hasilnya beliau dedikasikan hanya untuk anak dan keluarganya.

Tegas, Keras, Penyayang itulah yang sangat melekat pada ibu sampai sekarang.

Selesai potongan kuku di kaki ibu aku pun tersenyum menatapnya dan memeluknya dengan penuh kasih sayang, mata yang berkaca kaca tak kuasa menahan tetesan air mata.

Tak terasa sudah larut malam, saatnya aku dan ibu harus beristirahat, malam itu di tutupi dengan kami tidur bersama.

 

Iklan

3 thoughts on “Jari Jemari Kaki Ibu

  1. Ada apa dengan potongan kukunya mba Rahma?
    Jika itu diceritakan lebih panjang, pasti alur ceritanya akan lebih bermakna. Saya hanya bisa menduga-duga, potongan kuku yang bisa flash back ke masa lalu pasti dipenuhi dengan cerita.

    Anyway, cerita yang kerON mba Rahma.
    Andy

    1. Iya mas Andy, ini cerita aku yang potongin kuku mama di malam hari sebelum tidur..
      Agak ngga bisa jelasin semua cerita saat flash back, nanti aku rombak lagi Mas..

      Makasih Mas Andy 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s