Colekan Kecil dari-NYA

Melihat recent update di bbm, ada seorang teman yang mengupdate sebuah tulisan di blognya tanpa pikir panjang aku membukanya.

Mulai membaca secara runut goresan berdetak tersebut, pelan pelan secara perlahan meresapi setiap kata yang tertera. Begitu menyentuh hati ini, tak terasa air mata pun mengalir dengan mudahnya.

Ditemani oleh hujan juga yang turun malam ini begitu deras, sederas itulah air yang turun dari mata. Tulisan sahabat ku yang membuat terhentak terdiam tak bisa berkata kata.

Aku teringat percakapan tadi sore dengan adikku. Sudah lama kami tak berbicara empat mata seperti ini. Sepertinya dia tau apa yang sedang aku rasakan, dia membuka pembicaraan kita.

Karena aku tau dia org yg tepat untuk ku ajak diskusi untuk hal ini. Pembahasan kami awalnya ringan tapi adikku begitu pintar dan sampai juga pada pembicaraan inti dimana aku bisa mengeluarkan semua keluh kesah dan gelisah.

Ibu, sontak itu kata itu yang membuatku tak dapat menahan segala sesak didada di sertai dengan bendungan air dimata.

Ya ibu.

Begitu sensitif hati ini mendengar kata ibu, ibu yang membuat ku kuat, ibu dengan ketegasan dalam berbicaranya, dengan kekhawatirannya kepadaku, ibu yang selalu berdo’a untukku. Ibu yang tak mau aku kenapa kenapa. Tapi ibu punya cara berbeda memberikan kasih sayangnya kepadaku dan adik adikku.

Bagaimana tidak air mata ini terus menagis mengingat segala dosa kepada ibu yang sengaja atau tidak aku perbuat. Aku tak sadar bahwa aku sering tak pedulikan itu. Kekhawatirannya kadang aku anggap remeh, kasih sayang dengan caranya kadang aku pikir dia tak sayang padaku, kecerewetannya kadang tak ada arti bagiku..

Aku yang kadang pulang larut saat sudah asik diluar bersama teman-temanku, telat untuk makan, lupa kasih kabar dan yang terakhir mungkin dengan keputusan terbesar dalam hidupku. Begitu banyak aku melawan beliau.

Aku yang keras ibu yang juga keras, aku merasa sangat susah untuk berdiskusi dengan ibu. Dan hanya jam jam tertentu aku bisa mengambil posisi terbaik untuk berdiskusi dengannya.

Puncaknya saat akhir akhir ini aku kerap kali pulang larut malam. Mungkin yang terakhir dengan keputusan terbesar dalam hidupku. Aku juga bingung kenapa aku seperti ini??

Anak apa aku ini?? Begitu tega kepada ibu yang telah mengadung aku selama 9 bulan 3 hari dirumah sakit?? Apa pantas aku mendapat kasih sayang tulus darinya???

Tapi Allah memang Maha Baik, disaat seperti ini aku mendapat banyak teguran – teguran kecil seperti berbicara empat mata dengan adik ku yang membuat aku sedikit membuka mata akan keEgoisanku. Seperti colekan kecil lewat tulisan Sahabat ku Ka Eva..

Allah begitu sayang padaku, teguran kecil itu membuat aku berpikir bahwa aku telah menyakiti hati ibu. Rasanya aku ingin berlari sambil berteriak sekencang kencangnya mengeluarkan tumpukan hitam dalam hati. Tapi belum tentu menyelesaikan masalah, setidaknya membuat ku leda selain menangis.

Ku mencoba merendahkan hati dan Egoku untuk berdiskusi dengan ibu dan mendapatkan restu dan ridha darinya. Agar semua urusan ku didunia allah ridhai juga.

Karena Ridha Allah Ridhanya IBU. Penting sekali untuk mendapatkan Restu dan Ridha ibu agar yang dijalankan berjalan dengan baik. Aamiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s