Sabtu Di Kedai Ice Cream

Kedai ice cream di jln. Kenangan adalah tujuan utama ku keluar rumah malam ini, setelah seharian aku mengurung diri dalam rumah. Bertemankan dengan oven, loyang, mixer, terigu dan telur. Aneka macam bahan untuk menghasilkan buah tangan yang dapat membuat orang lain bahagia. Menjadi lebih baik perasaannya ketika memakan hasil tangan ini. Setelah berkencan seharian saatnya untuk aku melepas lelah.

“Mas. Ice cream vanilla satu ya, pakai topping coklat dan kacangnya sedikit” aku melaju ke meja berwarna putih dan bangkunya yang berwarna senada.

Hanya dompet dan handphone yang menemaniku malam ini. Selagi aku menunggu ice cream itu datang, rasanya tangan ini gatal ingin membuka gallery dalam hape xiaomi warna hitam.

Terus mengarah foto yang telah lama, semakin ke bawah lagi tangan ini terus menscroll ke bawah. Tiba-tiba tangan ini diam disatu titik foto yang aku abadikan. Aku menemukan foto yang telah diabadikan oleh temanku, tiga tahun yang lalu saat masih mengenakan pakaian putih abu-abu. Beberapa waktu yang lalu dia mengirimkan aku foto itu melalui e-mail.

Tiba-tiba ada suara dari arah depan tempat aku duduk di sebuah sudut ruangan. “Mba, silahkan ice cream vanillanya dengan topping coklat dan sedikit taburan kacang”  sambil menaruh ice cream dimeja, dimana aku duduk.

Sambil tersenyum aku mengambil ice cream vanilla dan berucap “Makasih ya mas.” lalu pelayan itu menjauh dari meja dimana aku duduk.

Aku kembali memperhatikan album foto dihapeku. Aku menemukanmu. Aku dan kamu dalam sebuah ruangan yang terlihat dari samping kamu memandangiku. Lesung pipimu menjadi pemanis dan menambah pesona indah di wajahnya. Dan aku dengan wajah yang bagaikan kertas yang telah diremas-remas ratusan kali.

Foto itu mengantarkanku kedalam sebuah waktu dimana saat kita masih sering bersama dalam satu organisasi dan divisi yang sama. Kau selalu memberikan aku sebuah ice cream vanilla dengan topping coklat dan sedikit taburan kacang yang sangat aku sukai. Kau sampai hapal ketika aku sedang menekuk muka dan kedua alisku yang tebal sudah menyatu. Kau dengan sigapnya memberiku segelas ice cream yang bertopping coklat bertabur kacang.

Suap demi suap masuk kedalam mulutku. Dan saat yang sama itu aku ingat sekali dengan kejadian dihari rabu, dibulan april tiga tahun silam. Tepat saat aku duduk dibangku sekolah menengah kejuruan. Masa putih abu-abu.

Aku sudah gila dengan tugas yang membebani. Rasanya ingin segera aku melepaskannya pergi. Dimana tugas harus dikumpulkan hari rabu sebelum jam empat sore dan ternyata aku terkena musibah. Flashdisk yang akan kuberikan kepada guru pembimbingku rusak dan data tak terbaca disemua komputer. Terlebih aku tak membawa charger laptop ku. Dan waktu hanya tersisa dua puluh lima menit lagi. Mustahil jika aku harus kembali ke rumah dan balik ke sekolah. Karena jarak rumahku ke sekolah pergi pulang sekitar lima puluh menit. Lengkap sudah, bagaikan ditimpuk dengan durian dan terpeleset kulit pisang.

“Hahahaha, cantik sekali yaa. Udah mau di kumpulin eh malah flashdisk gak kebaca sama semua komputer dan laptop mati pula. Tunggu-tunggu mana charger laptopku? jangan bilang aku ngga bawa. Damn! beneran ketinggalan di rumah. Lengkap ma. Lengkaaap!” Aku berbicara seperti menggunakan toa dan aku tak sadar bahwa ada dia di depan pintu. Dia mengintip dari luar dan segera pergi dari balik pintu.

Aku tak menghiraukan dia yang mengintip dibalik pintu. Aku terlalu kalang kabut dengan semua keajaiban hari ini. “Haaaaah, baiklah ma. Rasanya belum hari ini kamu bisa menyelesaikan semua tugasmu. Walau pada kenyataannya kamu harus mengumpulan hari ini.” Sambil menghela nafas yang panjang.

Aku hanya merenung disebuah ruangan, tempat aku biasa berkumpul dengannya membahas segala macam urusan dalam divisi kita. Entah apa yang ada dalam pikiranku itu. Aku tak berbuat apa-apa. Hanya diam, meletakkan semua benda yang aku pegang. Tak ada satupun yang tersisa di tangan. Aku hanya memejamkan mata, menarik nafas panjang yang aku hirup dan aku keluarkan perlahan.

Dua puluh lima menit berlalu. Tiba tiba aku terbangun dengan kaget karena mendengar suara pintu terbuka. Dia seperti kelelahan dan begitu tergesa-gesa. Ia menatapku penuh arti, keringat dari dahinya bercucuran. Nafasnya terengah-engah. Tetapi dengan sigapnya ia mengulurkan kantong berwarna biru bermotif awan putih. ” Ima, ini charger laptopmu. Tadi aku ngebut naik motor ke rumah kamu untuk ambil in ini. Tadi aku ga sengaja denger kamu ngedumel di situ. Ada Ibu kamu, aku minta beliau yang ambilkan. Ada flashdisk kosong punyaku juga yang belum aku pakai, bisa kamu pakai dulu kok Ma.” Lesung pipinya begitu dalam saat dia tersenyum.

Mulutku terbuka melihatnya. Tak habis pikir kenapa dia lakukan ini untukku? Aku tak meminta bantuannya tetapi dia datang bagai malaikat turun dari langit. Akh pria macam apa dia ini?

“Ya Allah Putra nggak ngerti harus bilang apa, aku cuman bisa bilang makasih banyak. Aku gatau harus bilang apa sama kamu. Ga bakalan lupa sama hari ini. Makasih banyak ya ya ya..” Tangan ini meraih kantong biru yang dibawa oleh Putra. Tanpa pikir panjang aku menyalakan laptop dan mencari data yang harus aku kumpulkan

“Oia Put, Nanti aku tunggu disini ya sehabis aku kumpulin tugas, aku mau traktir kamu makan siang.” Lanjutku tetapi dengan fokus yang tertuju pada laptop.

Lima menit sebelum pukul lima belas tugasku sudah sampai ke tangan pa Jun. Aku segera berlari menuju ruangan tempat aku dan Putra janjian menuju kantin untuk makan bersama.

Pintu itu terbuka dan aku makin dibuat terheran oleh sikapnya. Dia sudah menyiapkan ice cream vanilla bertoping coklat dan sedikit taburan kacang diatasnya. Dia letakan dimeja sebelah bangku di sudut ruangan. “Ima, ini buat kamu. Pasti capek kan ya? Makanya aku bawain ini buat kamu.” gigi depannya yang rapih pun semakin terlihat saat dia senyum ala pepsodent.

Dan lagi aku hanya menganga di depan pintu sebelum aku masuk ruangan. Aku yang sedang sakit kepala dibuat oleh tugas yang bisa membuat jantungku copot, tapi ini dia datang dengan segala pertolongannya untukku. “Padahal kan aku yang mau traktir dia makan, ini kenapa malah dia yang beliin aku ice cream?” Gumam dalam hati.

Hubungan kami hanya sebatas teman satu sekolah, kita beda kelas dan jurusan. Dia ambil jurusan rekayasa perangkat lunak dan aku multimedia. Komunikasi saja hanya sebatas untuk urusan organisasi. Sama halnya dengan komunikasi kami hanya untuk urusan organisasi. Sejauh ini aku dan dia memang pernah pergi bersama tetapi tidak hanya berdua. Dan setiap kami bersama, jika ada kedai ice cream aku memesan menu yang sama. Ternyata dia selama ini memperhatikan aku dengan kecuekannya.

Putra adalah tipikal pria pendiam yang tidak banyak omong didepan wanita, tapi jika dengan teman pria dia sangat hangat. Gaya berpakaiannya juga tidak terlalu mengikuti trend. Mengenakan jeans, kaos, jaket dan yang tak pernah absen dari tangannya adalah jam tangan.

Aku berjalan mendekati dia yang sedang duduk. Aku duduk didepannya, mengambil ice cream yang dibelikannya. “Put, makasih banyak untuk bantuannya hari ini. Aku gatau apa jadinya hari ini tanpa kamu. Kamu yang datang disaat aku udah putus asa. Lelah sama semua kejadian hari ini. Tapi kamu datang bawa kesejukan buat aku. Mulai dari charger laptop, flashdisk, dan ini yang paling aku suka, ice cream vanilla dengan toping coklat dan sedikit kacang.”

“Kamu ga perlu bilang makasih Ma, aku seneng kok bantuin kamu. Apalagi bisa liat kamu senyum lagi. Dan soal ice cream emang aku suka liat kamu makan ice cream kalau kamu lagi suntuk pasti makan itu.” Jawabnya sambil menatap kearahku duduk, sambil tersenyum dengan lesung pipi yang tak bisa hilang saat iya tersenyum.

Bersamaan dengan habis ingatanku tentang episode saat tugas akhir waktu smk, habislah ice cream yang aku makan. Aku menutup dan memsaukan handphone kedalam kantong rok, sambil berjalan membawa diri pulang ke rumah. Mengenai foto itu adalah ulah dari temanku. Dia adalah sahabat Putra yang tak sengaja melihat aku dan dia bersama di ruangan dan mengabadikan foto kami. Dia ternyata mengetahui bahwa Putra memiliki perasaan lebih kepada ku.

“Karena dia mencintaiku dengan caranya.”

Iklan

9 thoughts on “Sabtu Di Kedai Ice Cream

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s