Kenangan Bersama Ayah

anak dan ayah

Duhai malam aku tak mengerti pada apa yang aku rasa.
Rasanya langit tak indah seperti biasanya.
Padahal bulan dan bintang seperti biasanya disana.
Menerangi bumi tanpa rasa lelahnya.

Bersinar terang
Menemani malam

Gejolak rasa malam ini terjadi
Pertempuran hebat didalam hati
Entah apa yang kurasa malam ini
Semuanya terasa begitu menyiksa kini

***

Taukah kau langit, aku tak merasakan bahagia yang sesungguhnya. Seperti apa yang orang lihat dari kelakuan Ima yang begitu penuh ceria. Banyak yang berkata bahwa Ima adalah anak yang sangat ramah. Senyumnya dapat menjadi obat penawar bagi siapa saja yang hatinya sedang sakit. Keberadaannya selalu ditunggu dimanapun dia bermain. Ima yang orang lihat dari luar tak pernah memilik masalah yang pelik, hidupnya selalu baik-baik saja seperti FTV ditelevisi. Tapi tak begitu kenyataannya. Dia hanya tak ingin semua orang megetahui masalah dalam kehidupannya, biarlah dia yang memendam rasa itu sendiri. Bahkan Ibuku tidak pernah tahu apa yang anaknya rasakan.

Entah apa yang terjadi pada malam ini. Langit yang indah saja tak nampak cantik. Angin yang bisa memberi kehangatan saja terasa sangat dingin menusuk hingga ketulang.

***

Hari ini ku dengar suara ibu dari kamar mandi, beliau berteriak kencang sekencangnya seperti ada yang menggangu saat ibu sedang lelapnya dalam tidur siang. “aakh, sakit. Pergi sana! Menjauh dariku. Astafirullah, sakit, sakit” Suara ibu terdengar dengan jelas padahal aku sedang ada didapur, jarak kamar dan dapur sekitar sepuluh meter. Dan suara ibu ini terdengar begitu jelas. Ada yang tak beres disana.

Aku bergegas lari ke kamar ibu. Kulihat ibu sedang kesakitan padahal tak ada yang datang menyentuh ibu saat tidur. Aku mengambilkan segelas air putih lalu aku berikan kepada beliau. Aku duduk tepat disebelah ibu. Kuberikan air putih itu dan aku bertanya “Kenapa bu? Mimpi buruk lagi ya? Bapak datang ke mimpi ibu lagi? Bapak ngelakuin apa sampe ibu kebangun dari tidur?” Tanyaku bertubi-tubi tanpa jeda.

“Ibu mimpi bapak dateng ke ibu terus langsung mencet tulang belakang punggung ibu. Sampe ibu kesakitan susah nafas, sesak mba rasanya. Kayak nyata ibu rasain itu, ditekan sekencang-kencangnya sama bapak.” Ibu menjelaskan apa yang baru saja dirasakannya.

“Ibu tarik nafasnya ya, banyak istigfar ya bu.” Sahutku panik melihat ibu seperti ini.

Aku bergegas ke dapur untuk membuat teh manis hangat agar ibu lebih tenang perasaannya. Dan segera kembali ke kamar untuk memberikannya kepada ibu. “Ibu lanjut istirahat ya bu, Ima mau melanjutkan cucian Ima, ibu udah gapapa kan?”

“Iya ibu udah nggak apa apa mba.” Sambil tersenyum melihatku.

Aku bergegas ke belakang melanjutkan cucian yang belum selesai karena kaget dengan teriakan ibu tadi. Ada yang mengganjal dalam pikiranku. Ibu memimpikan bapak siang hari dan ibu merasakan sakit yang hebat. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa gejolak batin ibu belum reda? Masih belum bisa memaafkan bapak? Apa yang bisa aku perbuat? Ikut memaafkan atau membuat perhitungan pada bapak? Tapi tak akan sampai hati aku marah pada bapak walau dia sudah membuat kami sekeluarga menderita puluhan tahun. Aku masih belum bisa berhenti memikirkannya, hati dan otak bertempur saling bersahutan satu sama lainnya. Akhirnya aku pun berteriak dari dapur “ah! Apalagi sih? Apalagi?” alis mataku sudah menyatu satu sama lain, tangan ini meremas baju dengan kuatnya, kepala menjadi sakit seketika.

Rasa kangen yang menumpuk bagai luasnya lautan. Rindu akan sosok bapak yang menjaga anak-anaknya, dekapan penuh kasih sayang bapak, candanya yang membuat suasana pecah saat semuanya sedang tegang, tawanya yang khas seperti pelawak, bicaranya yang khas, nasihatnya, dan ice cream yang selalu diberikan tiap pekan kepada dua putrinya. Tapi disatu sisi dia sosok yang aku rindukan membuat orang yang sangat aku sayangi menjadi sakit. Luka itu masih belum kering, karena kenangan sepeti luka yang ditaburi garam terus menerus ini tak kunjung berhenti oleh bapak.

Luka yang setiap tahunnya makin melebar dan semakin banyak garam diberikan membuat rasa perih yang mendalam.

Selama ini aku terlihat layaknya anak yang penuh dengan kasih sayang bapak ibunya. Penuh cinta pada proses tumbuh kembangnya, tapi tidak begitu nyatanya. Bahagiaku hanyalah topeng yang aku buat untuk menutupi luka mendalam. Ternayata aku pandai membalik kenyataan. Tapi hari ini topeng itu runtuh.

Aku mengurung diri di sudut ruangan belakang. Duduk dipojok ruangan menekuk kedua kaki karena aku sudah tak ada daya untuk berdiri, tergeletak lemah terbawa perasaan. Kenangan pahit itu semakin datang satu persatu. Bagaikan menelan jamu pahit, rasanya belum hilang masih tersisa diujung tenggorokan. Tak hilang begitu saja. Tumpukan cuplikan masalalu silih berganti muncul dihadapan. Berhadapan dengan aku yang sedang tak stabil keadaannya. Aku menyerah ternyata memang aku belum benar-benar memaafkan bapak. Belum.

Sisa masalalu itu ternyata menjadi tumpukan di ujung ruang hati. Rasanya ini adalah sisa-sisa keikhlasan itu belum benar-benar aku ikhlaskan. Belum menerima kenyataan yang terjadi.

Iklan

4 thoughts on “Kenangan Bersama Ayah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s