Demam, Ayah dan Mama

Disudut kamar jam bentuk kepala panda sudah menunjukan pukul 00:45. Suara dengkuran mama dan suara kipas menemaniku, menjadi lantunan indah dikala sunyi.

Aku menoleh kea rah mama yang sedang tidur, lelap sekali. Nampaknya sedang kelelahan karena seharian bekerja di dapur menyelesaikan pesanan untuk pagi ini. Dia adalah seorang single fighter yang membesarkan dua orang putri.

Aku teringat kejadian sabtu lalu. Di pertigaan jalan, lima menit lamanya. Aku bertemu dengan ayah, mencuim tangan ayah. Dia bertanya kepadaku “Mau kemana mba? Kok pagi-pagi sudah keluar rumah?” Aku tersenyum ke arah ayah “Iya yah, mau ke supermarket sebentar ada yang mau dibeli. Ayah apa kabar? Kapan main ke rumah? Adek kangen sama ayah katanya.” Ayah tersenyum kepadaku dan membalas pertanyaanku “Ayah akan segera pulang ya mba, tunggu waktu yang pas untuk pulang, salam kangen untuk adek ya mba.” Aku sebenarnya tau ayah akan mengatakan ini, jawaban yang selalu terlontar dari ayah setiap aku melontarkan pertanyaan tadi. Lampu hijau sudah menyala tandanya aku dan ayah harus berpisah. Aku melanjutkan perjalanan menuju Klinik, sengaja tak jujur dengan ayah karena tak ingin dia khawatir.

Kadang dalam kondisi seperti ini aku sangat merindukan sosok ayah. Kami telah berpisah selama puluhan tahun. Walau komunkasi tetap berjalan tetapi tetap itu belum cukup untuk menggantikan sosok ayah. Aku memang selalu rindu kepada kehadiran ayah. Aku selalu ingin duniaku kembali tapi kenyataan yang ada tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak sekali serpihan pecahan gelas kristal yang harus dikumpulkan. Rasanya sangat lama walau sudah sejak dulu coba mengumpulkannya.

Ada kalanya saat malam seperti ini aku ingin tidur bersama mama dan ayah. Bertiga dalam satu ranjang yang sama. Menikmati malam, bercengkrama bersama, dengan penuh candatawa kasih sayang. Bisakah aku meminta pada waktu untuk menyelamatkan gelas kristal agar tak jatuh ke lantai? Andai aku bisa akan aku jaga baik-baik dan aku bersihkan setiap hari.

Malam ini ada wajahmu ayah dan ibu yang menjadi teman sebelum aku memejamkan mata.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s