Pria Berlesung Pipi

Sepulang kerja gue menunggu hingga maghrib menjelang. Meneruskan sholat di kantor. Gue masih duduk didepan laptop. Untuk menunggu waktu gue membuka google chrome, sudah lama ngga membuka facebook. Teringat akan pria manis berkaki jenjang dan lesung pipi pemanis senyumnya. Tepat tiga tahun yang lalu.

***

Sakit kepala akibat tugas itu masih terasa hingga sekarang. Padahal sudah tiga bulan lamanya gue lulus dari SMK. Gue merasakan ada yang berbeda. Akhir-akhir ini teringat akan sikap Putra. Pria yang berjasa pada pengerjaan tugas akhir.

Sikap Putra selalu berhasil membuat terkejut. Saat gue susah dia selalu ada, dimanapun dan kapanpun. Kini saat gue terdiam tiba-tiba muncul didalam pikiran. Sepertinya gue mulai tertarik dengan dia. Pria berlesung pipi kanan dan kiri ini memang manis dan tak bosan untuk dipandang.

Usaha dia selama ini sepertinya berhasil membuat pertahanan gue jebol, runtuh secara perlahan. Akhir-akhir ini sering memikirkan dia. Rasa itu muncul ketika masa sekolah menengah kejuruan akan segera berakhir. Rasanya cepat sekali waktu berlalu.

Sempat terbesit dalam pikiran dan bergumam. Jika Putra menyatakan cintanya kepada gue, apa akan gue terima dan meneruskannya? Gue belum siap jika kami harus menjalin hubungan jarak jauh. Kabar terakhir yang gue dengar adalah Putra akan melanjutkan kuliah di Kota Surabaya.

Seketika itu juga gue mencubit pipi. “Hih, mikirin apasih Ma? Belum tentu jugakan kejadian. Ngayal aja.” Sambil membuka facebook dari halaman belakang rumah. Menaik turunkan mouse dari atas ke bawah dan sebaliknya.

Tiba-tiba mata tertuju pada satu postingan. Ada Abi Putra Pradana, dia baru saja membuat sebuah catatan. Tanpa pikir panjang gue buka catatannya yang berisi puisi.

Teruntuk Kamu

Teruntuk wanitaku yang selalu ceria
Sinar mentari pagi terlihat dari senyumu
Menerangi yang ada disekitarnya
Rasa nyaman saat ada didekatmu

Aku pria yang berusaha mendekatimu
Mengagumimu dari kejauhan
Tak berani aku mendekatimu
Aku takut menjadi beban

Wahai wanitaku yang ceria
Kini aku berusaha menjauh
Aku pindah ke kota Surabaya
Dan ini yang membuatku resah

Kurasa kita semakin dekat
Maafkan aku yang tak izin kepadamu
Jarak kita nanti tak dekat
Tak ingin melihatmu bersedih karenaku

Maafkan aku yang pergi meninggalkanmu
Aku berusaha menjaga hati ini hingga aku siap
Mendatangi ayahmu
Dan bersanding sebuah dalam satu atap

Aku melotot melihat tulisan ini. Berulang kali mendalami catatan yang dibuatnya. Aku ingin menanyakan padanya apa maksud dari catatannya. Tanpa pikir panjang aku mengirim pesan untuknya.

“Assalamu’alaikum Putra” Ternyata dia masih online, syukurlah jadi chatnya segera dibalas.
“Wa’alaikumsalam Ima. Iya ada yang bisa aku bantu?”
“Kamu jadi pindah ke Surabaya? Kapan?”
“Iya Ma, aku jadi ke Surabaya. Lanjut kuliah disana. Kenapa Ma?”
“Barusan abis baca puisimu Put.”
“Ma. Sore ini bisa ketemuan? Aku mau ketemu sebentar, ketemu di kedai ice cream kesukaanmu ya. Jam 7 malem, aku berangkat besok sore Ma ke Surabaya”
“Iya Put, sampai ketemu nanti ya”

Gue nggak menolak ajakan Putra karena ini perpisahan untuk kita. Segera menuju kamar dari halaman belakang. Gue nengok ke arah dinding, jam sudah menujukan pukul 17:00. Bergerak menuju lemari diujung kamar, membuka pakaian yang sudah tertata rapi. Gue memilih menggunakan gamis warna hitam dan kerudung warna merah jambu.

Melaju ke kamar mandi dan bersiap sholat maghrib. Gue makin merasa deg-degan ingin bertemu dengan dia. Apa karena gue dan dia akan berpisah jarak yang jauh? Atau karena gue sudah bernar-benar jatuh hati padanya? Ah tak taulah macam apa pikiran ini.

Setelah sholat maghrib dan rapi-rapi selesai pukul 18:45. Gue nyalakan sepeda motor. Gue berada dalam kecepatan 20km/jam berharap dia yang akan datang lebih dulu. Gue mau memandanginya dari kejauhan terlebih dahulu.

Great! Tepat perkiraan. pukul 19:00 gue sampai, dan Putra sudah duduk di bangku yang biasa gue duduki. Di pojok kedai. Gue memandangi dia dari parkiran motor. Dia makin tampan saja dengan kaos berkerah berwana abu-abu dan celana panjang berwarna coklat. Jantungku berdetak kencang. Dag dig dug. Menaruh helm dan jaket yang dikenakan, gue berjalan mendekati putra.

“Assalamu’alaikum Put, udah lama?” gue menarik bangku yang ada didepan Putra.
“Wa’alaikumsalam Ma, aku pesenin ya buat kamu.” Sambil memanggil pelayan kedai Putra memesan dua Ice cream Vanilla with topping chocolate and nuts dan dua coklat panas
“Wah, makasih ya Put. Oia mau bicarain apa?” berusaha langsung kepembicaraan
“Jadi gini Ma, besok aku berangkat ke Surabaya karena mau mempersiapkan kuliahku disana. Mohon do’a agar kuliahku lancer ya Ma. Tunggu sampai coklatnya dateng nanti aku lanjutkan ceritanya” Dia tertawa dan giginya yang putih rapih ini terlihat semua, seperti model dari pasta gigi saja.
“Oo, baiklah Put.” Mengangguk dan hanya tertuju pada layar HP BB yang gue pegang.

Lima menit kemudian coklat panas itu datang, dan Putra langsung menjelaskan maksudnya mengajak aku bertemu di Kedai ini.

“Ma, tadi kamu baca puisi aku? Sebenernya itu kamu kenal banget sama orangnya”
“Haaah, maksdunya? Aku deket sama wanita yang kamu maksud?” Alis gue sudah bertautan antara kanan dan kiri. Dalam hati gue ngegerutu, Jadi itu bukan gue? Kan gue bilang apa, kegeeran aja sih lu Ma.
“Iya, kenal banget malahan Ma. Namanya Rhima Melati atau Ima, hehehe. Jangan serem gitu Ma alisnya”

Asli becandaan dia bikin gue sebel. Kan jadi ketauan kalau gue sebenernya udah mulai suka sama dia. Hih! Ngeselin.

Putra melanjutkan pembiacaraannya setelah menyeruput coklat panas miliknya. Dan kembali menatap gue yang ada didepannya. Jadi gini Ma, aku sengaja ngajak kamu ketemuan karena besok aku harus berangkat ke Surabaya untuk mempersiapkan kuliahku nanti. Aku ajak kamu kesini karena aku mau ngejelasin sesuatu ke kamu. Mengenai puisi yang tadi aku buat itu memang untuk kamu Ma. Ma, aku mau kamu tau satu hal. Aku suka sama kamu sejak kita satu organisasi. Aku kagum liat kamu, tak ada hari tanpa tersenyum. Ramah sama semua orang, cekatan, dan sayang sama adik dan ibu kamu. Aku suka sama cara kamu memperlakukan orang lain yang ada disekitar kamu.

Aku hanya terdiam menatap putra, tangan gue dingin banget berbarengan dengan coklat panas gue yang ikutan dingin. Gue meleleh denger kata-kata Putra berbarengan dengan Ice Cream yang lumer karena dari tadi belum sempet dimakan. Masih terus ngeliat putra dengan kadang gue nunduk ngedengerin dia, omongannya belum selesai.

Jadi Ma, sehabis aku balik dari Surabaya sebulan lagi. Aku mau nemuin ayah kamu boleh? Aku mau meminta kamu ke ayahmu.” Seketika suara dia berhenti dan menatap gue. Dia minum coklatnya dan gue cuma diem sambil makan ice cream yang mulai cair. Gue masih diem dan ngabisin semua ice cream. Diapun melakukan hal yang sama.

“Bersambung…”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s