Pengingat

Pernah nggak ngerasa kacau balau perasaannya? Aku pernah. Beberapa minggu terakhir sedang banyak sekali rentetan pekerjaan yang aku rasa tiada hentinya. Pernah merasa waktu itu sangat cepat berlalu dari pagi menuju malam.
Rasanya lelah dengan pekerjaan ku di kantor dan pemacu semangatku yaitu membuat kue.

Bisa dihitung dalam bulan pebruari ke maret sudah tiga kali bolak balik ke klinik. Nggak karuan rasanya. Aku paling ngga bisa buat kue dalam keadaan sakit, flu aja aku gamau karena takut nular ke kue dan “feel”nya ngga akan dapet. Aku sendiri punya satu kebiasaan yang selalu aku lakuin sebelum masak kue. Mandi atau wudhu dulu dan selama pengerjaan diusahakan banget selalu membaca sholawat atau dzikir. Ini buat aku lebih enak aja kalau buat kue.

Nah dua minggu kemaren itu rasanya hilang semua gairah aku masuk ke dapur, ditambah karena aku lagi sakit juga. Makin ngga “bisa” ke dapur.

Minggu inipun sama, aku lagi mempersiapkan training kepenulisan yang dimulai tanggal 22 maret. Karena tanggal 21 ada outing maka dari itu laporan harus selesai tanggal 19, jaga-jaga biar hati tenang pas outing. Nah minggu ini juga ditemani lagi sama si mr. Flu.

Dibalik rentetan diatas aku mengevaluasi apa yang salah dari diriku? Ada setitik serpihan yang tak diundang datang dan membuat noda. Aku merasa kegalauan mulai menghinggapi mulai dari dapur hingga kerjaan kantor. Ya rabb bantu aku.

Tepat hari ini allah tunjukan lewat caraNya.

Biasanya aku lewat mampang kalau pulang kerumah dari pejaten yaitu tenpat aku bekerja. Karena ada pembangunan jalan layang ciledug ke tendean alhasil aku males lewat velbak karena macetnya minta ampun, biasanya mampang ke rumah itu empat puluh lima menit jam delapan malam. Ini bisa sampe satu setengah jam. Memutuskan untuk lewat antasari dan tembus di kebayoran. Alhamdulillah sepanjang perjalanan aman nggak ada hal yang menghambat, lancar jaya. Bahagia banget rasanya.

Pas liat ke arah jalan layang velbak itu macetnya, luar biasa. Horror. Udah deket sama rel kereta kebayoran, ini kayaknya ada yang nggak beres soalnya macet dan ramai disekitaran rel kereta. Pas aku sampe depan rel, palang kereta tertutup, suara tanda kereta akan lewat mulai berbunyi. Paling takut kalau kereta lewat dan aku di persimpangan jalan itu. Motor sengaja aku matiin kalau lagi ada kereta yang lewat.

Di seberang sudah ramai orang dan polisi yang menjaga, di kanan dan kiri aku menunggupun banyak sekali warga. Sontak aku bertanya pads bapak yang ada disebelah kananku “Pa, itu kenapa?” Sekujur tubuh tiba-tiba merinding karena belum liat yang ada diseberang jalan. “Ada yang ketabrak kereta neng, kepalanya ancur” lemes dan bulu kuduk berdiri sekujur tubuh. Aku emang ngga liat korbannya tapi yang aku liat motornya itu beat baru yang warna hijau. Saat aku melintasi rel kereta itu perasaan semakin sedih, merinding hingga jarak 500m dari lokasi.

image

Sepanjang dari lokasi kecelakaan hingga ke rumah aku merasa sedih dan bersyukur. Seperti aku diingatkan kembali bahwa kehidupan di dunia itu hanya sangat sementara. Tak ada yang abadi di dunia  ini. Dan semakin mengingatkan bahwa aku harus segera menjadi anak yang bisa membanggakan orang tua. Mewujudkan segala impian dalam hidup mencapai kehidupan yang bisa menjadi bekal di akhirat. Karena Dialah sang pemilik arsy dan hanya Dia yang mengetahuinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s