Berbekal buah pisang

Asap itu mengepul keluar dari panci yang baru dibuka tutupnya. Di sudut sebelah kanan dari tempat aku duduk. Beberapa pria lengkap dengan seragam hitam mengenakan topi koki dan juga mengenakan masker. Mereka sedang sibuk menyajikan makanan untuk tamu-tamu yang datang ke café ini.

Café yang terkenal dengan roti bakar aneka topping cukup terkenal di bilangan Jakarta. Para pelanggan hilir mudik bergantian keluar masuk café ini. Tempatnya sangat nyaman untuk dijadikan tempat untuk ngobrol santai.

Ada yang sedang mengerjakan pekerjaan, wanita yang duduk tepat di sebelah meja aku duduk. Ada yang hanya mengajak keluarganya untuk makan siang beristirahat setelah keliling mall. Aku baru ingat bahwa hari ini adalah hari libur, jelas saja daritadi banyak yang datang membawa keluarganya. Ada yang hanya berbincang sambil menghabiskan minuman yang dipesannya. 

Sebagian lainnya. Ada juga yang memanfaatkan tempat ini hanya untuk mengerjakan tugas menumpuk yang belum terselesaikan dihari kerja. Hanya membeli sepasang roti bakar dengan topping almond dan seporsi pisang dengan ice cream, biasa disebut banana split tak terlupakan coffee atau sekedar milk shake.

Aku adalah salah satu dari orang di atas tadi, tepatnya orang yang paling bawah dari kumpulan nama di atas. Asik dengan pekerjaannya yang belum selesai disaat hari kerja dan mencari tempat agar tidak diganggu; mungkin karena gangguan dari keluarga atau teman yang dapat mengganngu sehingga dapat menghambat selesainya pekerjaan. Kadang memang dibutuhkan waktu sendiri untuk menyelesiakan pekerjaan.

Selang sepuluh menit pramusaji itu datang membawa sebuah coffee dengan rotinya sedangkan pisang dengan ice cream ku belum datang. Aku masih menantinya segera datang. Aku ingin mendatangkan kenangan bersama setiap gigitan pisang yang dimakan bersamaan dengan ice cream.

Pisang pernah menjadi penghidupan utama bagi keluargaku. Ayahku saat itu pernah menjadi penjual pisang. Pundi-pundi uang terkumpul dari buah pisang ini. Aku tak pernah bosan memakan buah pisang. Sekalipun tidak. Karena pisanglah juga yang semakin membuat aku dan ayah semakin erat. Namun ada juga satu kisah yang cukup menguras sumur air mataku.

Saat aku berusia tujuh tahun, aku berada dikelas dua sd. Saat itu aku ingat betul sudah memasuki awal bulan, saatnya untuk membayar spp. Seperti biasanya, aku mengajukan kartu sppku pada ayah. Ayah hanya menerimanya namun tak bergeming. Rasanya memang ayah belum punya cukup uang untuk membayarnya. Jika ayah punya, dengan segera mengambil uang di dompetnya dan meletakkan di dalam sppku.

Aku ingat betul, saat itu masa dimana dagangan ayah masih banyak tersisa, pendapatan ayah menurun. Terlebih adikku baru saja pulang dari rumah sakit karena sakit diare. Ibu sudah seminggu tidak berdagang karena tidak enak badan juga. Mungkin kedua orang tua ku sedang tidak ada biaya.

Biasanya aku diberi uang saku seribu rupiah kala itu, namun turun menjadi lima ratus rupiah. Keadaan memang gebting. Setiap hari aku membawa bekal pisang. Bersyukurnya karena aku mencintai pisang, jika tidak, aku bisa kelaparan karena memang tak ada makanan lain selain pisang untuk dibawa bekal. Kejadian ini berlangsung hampir satu bulan. Kami sekeluarga sudah was-was jika kejadian ini berlangsung lebih dari satu bulan.

Pisang juga selalu menjadi makanan favorit saat aku masuk ke dalam toko buah. Pisang juga menjadi buah yang paling digemari oleh keluargaku. Bukan hanya gemar, namun sejarah dari pisang ini sangat luar biasa untuk keluarga kami. Dan aku masih ingat betul dengan kejadian saat itu.

Kala aku kecil sekitar berumur dari tiga hingga lima tahun pisang adalah makanan utama yang wajib ada sebelum aku memakan nasi.

Dan kali ini ayah sudah datang bersamaan dengan pisang pesananku. Dalam sebuah film imajiner yang sedang terputar dalam bayanganku. Kuharap satu hari nanti kita akan menikmatin pisang kemenangan kita bersama, Yah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s