Balada bahasan jodoh

00:54 waktu di kampung baru dan sekitarnya. Kemarin tepatnya tanggal 3 agustus kemaren.

Ada satu pertanyaan dan perasaan yang menghantui gue beberapa bulan terakhir, bermula ketika umur gue udah dua puluh dua tahun. Yup pertanyaan tentang pernikahan.

Jodoh.
Bukan sesuatu yang asing untuk dibicarin akhir-akhir ini. Lagi jadi bahasan yang naik daun banget. Mulai dari novel, film, gombalan, cokelat aja sampe semuanya tentang jodoh.

Jodoh yang belum kita tahu siapa, anak keturunan mana, kelakuannya gimana, dan dilahirin dengan pendidikan keluarga yang macam apa.
Moment lebaran membuat jomblowati atau single joss (jomblo sampai sah) macam gue ini biasanya udah nyiapin beberapa catatan untuk jawaban, anehnya tahun ini gue nggak ditanya kapan nikah. Gue malah langsung dapat do’a restu biar segera menikah. Dari enyak, baba, kakek, nenek, tante, om, bulek, pakde, encang, encing, semuanya sama cuman do’ain gue biar dapat jodoh yang baik buat gue dan bisa jadi imam buat gue. Bukan imam sholat doang ya (jadi inget adegan arini dan pras di Surga Yang Tak Dirindukan).

Tak terkecuali nyokap gue sendiri. Mama. Semenjak ulang tahun gue yang ke dua puluh dua bulan april lalu, gue jadi sering ditanya kapan mau nikah mba? Sesekali gue juga bilang ke nyokap “nanti ajah ma.” Nyokap malah bilang “Mba udah waktunya lho kamu memikirkan itu, walau ga dalam waktu dekat.”

Serius, gue ngerti maksudnya nyokap gue ke arah mana. Mungkin karena yang dia lihat gue gak pernah punya temen deket cowo sekitar enam tahun terakhir dan gue udah juga udah umur dua puluh dua tahun maka dari tu nyokap gue lebih sering menanyakan, kapan gue nikah.

Sebagai seorang wanita gue sadar betul untuk jadi wanita siap menikah itu butuh banyak banget ilmu di dunia parenting, dan yang paling penting juga mental sih. Bukan itu aja, diri kita sendiri sebagai wanita. Udah paham belum sih kita sama diri kita? Udah bisa ngendaliin emosi saat meledak-ledak? Udah bisa tenang ngadepin masalah yang datang bertubi-tubi?

Nikah, bukan cuman tentang persiapan mau nikah, setelah ituloh yang harus dipersiapakan untuk menikah nanti, jadi wanita yang bisa jadi pelipur lara sang suami saat di rumah. Peneman saat dia sedang sedih dan senang.

Menikah itu juga bukan buat kita (aku dan kamu) tapi akan ada anak yang akan jadi pertanggung jawaban kami di akhirat nanti. Besarkan anak itu perlu ibu yang cerdas, sabar, penyayang, penenang jiwa dan hati anaknya. Bukan cuman anak ajah, tapi juga jadi tempat kembalinya suami nanti.

Semoga saja semakin dewasa umur, semakin Allah jadikan dan bimbing kita jadi anak yang sholehah dan segera Allah pertemukan dengan jodoh kita, aamiin.

:):):)

Apriliah Rahma
@apriliahrahma

Tukang Kue yang Menulis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s