Filosofi Udang Part 2

Jujur, aku masih nggak mengerti maksud dari perkataan Ayah sama dia tadi malem, yang pasti perkataannya sukses membuat aku nggak bisa tidur. Sengaja memang tadi malam aku tidak bertanya kepada Ayah, aku langsung masuk ke kamar tanpa menunggu dia pulang. Sebab aku sudah sakit kepala melihat kejutan hebat semalam.

Karena tadi malam aku batal keluar untuk mencari makan udang, maka aku putuskan untuk memasak udang bakar saus pedas saja hari ini, selain memang aku suka sekali dengan udang, ya aku ingin mengembalikan moodku yang rusak.

***

Sepulang dari swalayan membeli 250gr udang yang cukup besar, akhirnya aku putuskan untuk mengolahya sekarang juga. Ketika aku sedang didapur, ayah menghampiriku, sepertinya akan membahas masalah semalam dengan pria itu. Betul dugaanku, ayah akan membahas hal tadi malam.

“Nak. Semalam Ayah banyak berbicara dengan Prasetyo, yang Ayah lihat dia memang anak baik-baik. Sabtu besok dia Tyo akan datag bersama keluarganya kesini. Kamu masih ada waktu satu minggu untuk istikharah nak. Ayah melihat Tyo dapat menjadi imam yang baik.” Ayah langsung menjabarkan apa yang dia tangkap tadi malam tentang Prasetyo.

Sejujurnya jika dilihat dia memang anak yang baik, sebab pemkirannya yang dewasa inilah semakin menambah nilai pada Pras. Pras panggilanku kepada dia selama kami berkomunikasi via whatsapp. Dan mulai saat ini aku akan meminta terlebih dahulu kepada Dia, apa Pras adalah Imam yang baik untukku.

***

 Minggu-minggu ini aku lalui dengan rasa yang begitu membingungkan. Aku baru mengenal Pras hanya didunia maya saja, untuk dikehidupan nyata aku baru bertemu dia tiga kali, tapi mengapa dia sudah yakin menjadikan aku istri. Sungguh ini membingungkan. “Kuserahkan kepadaMu ya Rabb, semoga jika dia yan terbaik untuk menjadi imamku, ridhoi kami.” Aku berucap lirih selesai sholat disepertiga malam.

Kulanjutkan kembali tidur setelah sholat.

***

Tiba saatnya datang, hari ini Pras datang dengan keluarganya. Aku tidak terlalu menyiapkan banyak hal, berpakaianpun seadanya, mengenakan sedikir make up tipis dengan balutan gamis berwarna hijau tosca dan khimar hijau mint.

Jazz merah milik Pras sudah Terdengar suara langkah dari depan, Pras dan keluarganya sudah datang. Setelah seminggu menunggu, hari ini datang. Datang disaat yang belum tepat. Aku tidak mengerti dia ini siapa tapi dia berani berkunjung. Semua sudah duduk di ruangan depan, lengkap dua belah keluarga. Pras tampak sangat tampan dengan celana hitam, baju hijau dan juga peci hitam, kacamatanya menambah auranya semakin terpancar. Aku sempat terpaku memandanginya dari ujung kepala hingga kaki.

Saatnya aku memberi keputusan.

***

Pihak dari keluarganya datang dan menyampakan maksud dari kedatangannya kesini, aku duduk berjejer dengan keluargaku, dan kini semua mata tertuju padaku. Menunggu apa yang akan aku katakan. Aku masih belum membuka mulut sedikitpun, tatapan masih terus kebawah, sesekali melirik ke arah sekitar. Dan akhirnya ku ucapkan kata demi kata.

“Bismillah, semoga Allah meridhoi keputusan ini.” Aku membukanya dan melanjutkannya lagi, “InsyaaAllah, aku siap menjadi istri dari mas Pras.”

Serentak seluruh orang di rumah berseru “Alhamdulillah.”

Semuanya berjalan lancar hingga penentu hari pernikahan kami nanti. Dan aku ingat betul apa yang membuat aku dan dia dapat bersatu. Karena sebenarnya kami sama-sama menyukai udang, dan Pras memiliki tambak udang untuk usaha rumah makan yang biasa aku beli ketika malas mengolahnya. Ya, memang tidak disangka-sangka, ternyata jodohku dibalik rumah makan udang.

Tamat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s